Indonesia, dengan bentang geografis yang luas dan posisi geopolitik yang strategis, mengadopsi sistem pertahanan unik yang termaktub dalam Doktrin Pertahanan Semesta (Sishanta). Doktrin Pertahanan ini bukanlah sekadar strategi militer konvensional; ia adalah Filosofi Sprawl nasional yang melibatkan seluruh sumber daya negara—TNI, komponen cadangan, dan komponen pendukung—untuk menghadapi segala bentuk ancaman, baik militer maupun non-militer. Doktrin Pertahanan Semesta adalah wujud nyata dari Strategi Adaptasi Melawan Terorisme (ancaman) yang bersifat komprehensif, memastikan bahwa setiap warga negara memiliki peran aktif dalam menjaga kedaulatan.
Secara filosofis, Filosofi Sprawl dalam konteks gulat adalah menjatuhkan seluruh berat badan untuk menggagalkan serangan lawan. Dalam konteks pertahanan negara, Sishanta berarti mengerahkan seluruh kekuatan nasional untuk menggagalkan agresi asing, membuat biaya pendudukan menjadi sangat mahal dan tidak sepadan bagi musuh. Komponen utamanya adalah Tentara Nasional Indonesia (TNI) sebagai kekuatan utama, didukung oleh Komponen Cadangan (Komcad) yang terdiri dari warga sipil terlatih, dan Komponen Pendukung, yang mencakup infrastruktur, logistik, dan sumber daya industri pertahanan.
Penerapan doktrin ini sangat relevan dalam menghadapi ancaman regional kontemporer, terutama di wilayah maritim seperti Laut Natuna Utara. TNI secara aktif melaksanakan Sinergi Tiga Matra—Darat, Laut, dan Udara—untuk Membaca Pertahanan dan mengamankan wilayah. Meskipun Strategi Modernisasi Alutsista melalui Minimum Essential Force (MEF) terus digalakkan dengan pengadaan jet tempur dan Kapal Selam Nagapasa Class, kekuatan terbesar Indonesia terletak pada potensi mobilisasi rakyat. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2019 tentang Pengelolaan Sumber Daya Nasional untuk Pertahanan Negara mengukuhkan dasar hukum bagi Komcad, yang pada tahun 2024 telah melantik ribuan anggota baru dari berbagai profesi.
Filosofi Sprawl ini bertujuan untuk deterrence (daya gentar). Negara yang tahu bahwa mereka harus menghadapi bukan hanya pasukan profesional (Kopassus dan Yontaifib Marinir) tetapi juga seluruh rakyat yang terorganisir, akan berpikir ulang untuk melancarkan agresi. Kepala Staf TNI Jenderal (TNI) Budi Santoso, dalam pidato Hari Pahlawan 10 November 2025 di Istana Negara, menegaskan bahwa Doktrin Pertahanan Semesta adalah Kunci Perlindungan abadi yang berakar pada semangat perjuangan kemerdekaan, di mana kekuatan rakyat selalu menjadi penentu akhir kedaulatan bangsa.