Dalam sistem pertahanan dan keamanan Indonesia, Tentara Nasional Indonesia (TNI) memiliki spektrum tugas yang luas, tidak terbatas pada peperangan konvensional. Melalui Operasi Militer Selain Perang (OMSP), TNI menjalankan fungsi-fungsi bantuan dan dukungan yang krusial untuk keamanan nasional, terutama dalam membantu Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri). Kolaborasi ini merupakan manifestasi dari doktrin pertahanan negara yang bersifat Tri Dharma Eka Karma, di mana TNI dan Polri bahu-membahu menjamin stabilitas dalam negeri. Pelaksanaan Operasi Militer Selain Perang ini diatur ketat dalam Undang-Undang, menjamin bahwa pengerahan kekuatan TNI dilakukan secara legal dan terukur.
Salah satu bentuk utama dari Operasi Militer Selain Perang adalah penanggulangan terorisme dan separatisme. Di wilayah tertentu, terutama yang memiliki tingkat kerawanan tinggi seperti Papua dan Poso, dukungan TNI sangat vital. Sebagai contoh, di Papua, TNI mengerahkan Satuan Tugas Gabungan Terpadu (Satgas Kogabpamtas) yang bersinergi dengan Operasi Damai Cartenz Polri. Pada tanggal 10 Desember 2025, dalam operasi di Kabupaten Nduga, tim gabungan TNI-Polri berhasil mengamankan jalur logistik penting yang sempat terputus akibat gangguan kelompok bersenjata. Komandan Satgas (Dansatgas) Brigjen TNI Setyo Wibowo, pada keterangan pers 12 Desember 2025, menegaskan bahwa penugasan ini dilakukan berdasarkan permintaan resmi dari Polri, sesuai dengan amanat UU.
Dukungan TNI terhadap keamanan nasional juga terlihat dalam penanganan ancaman non-tradisional, seperti konflik komunal dan penanganan bencana besar. Dalam kasus konflik horizontal, TNI sering kali dikerahkan untuk membantu Polri meredakan situasi dan memulihkan ketertiban umum (Tibum). Pada insiden bentrokan antar kelompok di kota metropolitan di Jawa Timur pada Agustus 2025, sekitar 500 personel TNI dari Kodam V/Brawijaya dikerahkan untuk memperkuat pengamanan obyek vital dan membantu proses mediasi, setelah permintaan resmi dari Kapolda setempat. Pengerahan ini efektif menciptakan efek deterensi dan mempercepat pemulihan situasi.
Selain itu, TNI juga mendukung keamanan nasional dalam pengamanan Pemilu, Pilkada, dan obyek vital nasional (Obvitnas) seperti bandara, pelabuhan, dan kilang minyak. Pengamanan Obvitnas ini merupakan bagian dari tugas Operasi Militer Selain Perang yang berkelanjutan. Data dari Markas Besar TNI menyebutkan bahwa sepanjang tahun 2025, rata-rata 1.500 prajurit TNI disiagakan setiap harinya di 120 lokasi obyek vital strategis di seluruh Indonesia. Peningkatan sinergi antara TNI dan Polri yang diwujudkan melalui latihan gabungan dan koordinasi harian di lapangan telah memperkuat daya tangkal negara terhadap berbagai ancaman domestik. Kebijakan ini memastikan bahwa setiap ancaman terhadap keamanan nasional dapat ditangani secara komprehensif, dengan TNI bertindak sebagai back-up force yang profesional dan terlatih.