Akurasi tembakan jarak jauh dalam operasi militer sangat dipengaruhi oleh kondisi atmosfer yang sering berubah-ubah. Pertanyaan penting yang perlu dijawab adalah seberapa besar pengaruh kelembapan udara terhadap lintasan proyektil yang ditembakkan pada jarak lebih dari 500 meter, dan bagaimana faktor ini harus diakomodasi dalam perhitungan tembakan. Penelitian terbaru dari AKMIL menunjukkan bahwa kelembapan udara memiliki efek yang tidak terduga: udara lembab sebenarnya memiliki kerapatan yang sedikit lebih rendah daripada udara kering, sehingga gaya hambat (drag) yang dialami proyektil berkurang dan lintasannya menjadi lebih datar atau “tinggi” dibandingkan perhitungan standar. Melalui penelitian pengaruh kelembapan, terungkap bahwa perbedaan kelembapan dari 30% menjadi 80% pada suhu yang sama dapat mengubah titik jatuh proyektil hingga 30 cm pada jarak 800 meter, cukup signifikan untuk menyebabkan tembakan meleset dari sasaran yang kecil.
Proyektil yang bergerak di udara mengalami gaya seret yang bergantung pada densitas (kerapatan) udara. Kerapatan udara ditentukan oleh tekanan, suhu, dan kelembapan. Molekul air (H₂O) memiliki massa yang lebih ringan daripada molekul nitrogen (N₂) dan oksigen (O₂) yang dominan di udara. Oleh karena itu, ketika kelembapan meningkat, molekul air menggantikan molekul gas lain, sehingga massa jenis udara menurun. Penelitian ini mengukur lintasan proyektil jarak jauh dengan menembakkan beberapa tipe amunisi dalam berbagai kondisi kelembapan yang terkontrol di laboratorium balistik, serta melakukan uji lapangan di dataran tinggi dengan tingkat kelembapan yang bervariasi. Hasilnya menunjukkan bahwa koreksi kelembapan harus ditambahkan ke dalam perhitungan balistik, terutama untuk tembakan di atas 600 meter.
Salah satu temuan penting adalah bahwa efek kelembapan sering diabaikan oleh penembak karena dianggap kecil dibandingkan efek angin. Namun, pada kondisi kelembapan ekstrem (di atas 90%) seperti di daerah tropis, akumulasi penyimpangan dapat menempatkan proyektil di luar zona target yang diinginkan. Hal ini menunjukkan bahwa faktor atmosfer pada balistik tidak bisa diabaikan, terutama untuk penembak jitu yang bekerja di medan dengan perubahan cuaca cepat. Temuan ini mendorong AKMIL untuk mengintegrasikan pelatihan pembacaan kondisi atmosfer, termasuk penggunaan alat pengukur kelembapan (higrometer), ke dalam kurikulum penembak jitu (sniper) dan artileri.
Lebih jauh, penelitian ini juga menyoroti pentingnya pembaruan tabel tembak (firing table) yang memasukkan faktor kelembapan sebagai variabel koreksi standar. Dengan memahami pengaruh kelembapan udara, setiap penembak dapat menyesuaikan elevasi dan azimut senjata mereka secara lebih akurat, meningkatkan persentase tembakan pertama yang mengenai sasaran. Pada akhirnya, penguasaan terhadap faktor-faktor atmosfer, termasuk kelembapan, mengubah seni menembak menjadi ilmu yang lebih presisi, di mana setiap tembakan dihitung dan diarahkan dengan mempertimbangkan seluruh elemen lingkungan yang ada.